Sumber daya manusia (SDM) sebagai aset bagi perusahaan, di mana pengelolaannya menentukan kesuksesan bisnis. Beban kerja berlebihan dan ketidakseimbangan work-life balance (WLB) dapat memicu stres kerja, yang berujung pada turnover intention. PT. Bestprofit Futures Malang mengalami masalah turnover intention tinggi akibat beban kerja, stres, dan WLB buruk, seperti data periode 2021–2023 yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan rekrutmen dan retensi karyawan. Penelitian menganalisis pengaruh beban kerja dan WLB terhadap turnover intention dengan stres kerja sebagai variabel mediasi. Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan path analysis dengan data primer dari 58 karyawan PT. Bestprofit Futures Malang. Instrumen yang meliputi kuesioner skala Likert dan analisis statistik deskriptif-inferensial menggunakan PLS-SEM. Variabel meliputi beban kerja (X1), WLB (X2), stres kerja (Z), dan turnover intention (Y). Hasil dari penelitian bahwa beban kerja dan WLB yang tidak berpengaruh langsung terhadap turnover intention, tetapi signifikan melalui stres kerja sebagai full mediation. Beban kerja tinggi (skor 4.29) dan WLB buruk (skor 4.10) meningkatkan stres kerja (skor 4.14), yang berdampak pada turnover intention (skor 4.15). Implikasi penelitian ini bahwa perusahaan perlu mengurangi beban kerja, meningkatkan fleksibilitas WLB, dan menerapkan program-program manajemen stres untuk menekan turnover intention.