Video art adalah bentuk seni yang memanfaatkan video dan audio sebagai media utama dalam berkarya. Berbeda dengan film, video art tidak bergantung pada aturan sinema. Seni ini tidak harus menggunakan aktor, dialog, plot, atau narasi yang jelas. Tujuan utama video art bukan sekadar untuk menghibur, melainkan lebih menitikberatkan pada eksplorasi medium dan makna. Penelitian ini mengkaji sebelas karya video art yang diproduksi oleh Teater Potlot dengan menggunakan kerangka teori Gerakan Sosial Baru (New Social Movements) yang dikemukakan oleh Rajendra Singh. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis respons Teater Potlot terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi di kawasan Lahan Basah Sungai Musi, serta memahami strategi mobilisasi sumber daya gerakan yang dilakukan sebagai bagian dari upaya penyelamatan lingkungan. Metodologi yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi, dengan memanfaatkan sumber data primer maupun sekunder. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Gerakan Sosial Baru mampu melampaui berbagai batasan struktural seperti ras, kewarganegaraan, maupun profesi. Teater Potlot, sebagai aktor dari gerakan ini, membuktikan bahwa video art dapat berfungsi sebagai medium yang efektif dalam merespons krisis ekologis, khususnya kerusakan Lahan Basah Sungai Musi, sekaligus sebagai alat untuk memobilisasi sumber daya sosial dan kultural, strategi tersebut antara lain; 1) Media dan Komunikasi Alternatif, 2) Penggunaan Simbol, Budaya, dan Bahasa, 3) Mobilisasi melalui Isu-isu Non-material, 4) Konstruksi Identitas Kolektif (Collective Identity), 5) Desentralisasi dan Non-hirarkis. Lebih jauh, karya-karya video art tersebut juga berhasil membentuk ruang partisipasi publik yang transformatif, serta membuka kemungkinan lahirnya bentuk-bentuk baru gerakan sosial di tengah masyarakat kontemporer.