Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023) melaporkan bahwa prevalensi peserta keluarga berencana di Indonesia mencapai 60,4%, dengan kontrasepsi suntik sebagai metode yang paling banyak digunakan (35,3%). Di Daerah Istimewa Yogyakarta, pengguna kontrasepsi suntik mendominasi dibandingkan metode lain, dan di Kabupaten Bantul cakupan peserta kontrasepsi suntik aktif tertinggi pada tahun 2023 tercatat di Puskesmas Piyungan sebesar 55,69%. Kontrasepsi suntik 3 bulan merupakan sintesis progestin yang meniru hormon alami tubuh, diformulasikan dalam bentuk suspensi steril 150 mg medroksiprogesteron asetat. Metode ini telah digunakan di lebih dari 90 negara selama lebih dari dua dekade dengan sekitar lima juta wanita sebagai pengguna aktif. Tingginya prevalensi penggunaan kontrasepsi suntik menunjukkan pentingnya mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan metode suntik 3 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang berhubungan dengan penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan pada wanita usia subur di Puskesmas Piyungan tahun 2025. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif sederhana melalui pendekatan cross-sectional, dengan 41 responden yang dipilih menggunakan accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik mengenai kontrasepsi suntik 3 bulan (73,2%), mayoritas berusia 20–35 tahun (53,7%), berpendidikan menengah (61,0%), tidak bekerja (73,2%), memiliki status multipara (80,5%), serta berpendapatan di bawah upah minimum kabupaten (58,5%). Faktor predisposisi seperti pengetahuan, usia, pendidikan, pekerjaan, paritas, dan status sosial ekonomi berpengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan. Kesimpulannya, pengetahuan, karakteristik demografi, dan kondisi sosial ekonomi merupakan penentu penting dalam pola pemanfaatan kontrasepsi suntik 3 bulan.