Dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin kompleks dan ancaman multidomain, Indonesia memerlukan kepemimpinan militer yang transformasional dan strategis untuk mendorong mobilisasi sumber daya nasional dalam rangka memperkuat pertahanan negara. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur kualitatif deskriptif dengan fokus pada analisis peran kepemimpinan transformasional (Burns dan Bass) serta kepemimpinan adaptif (Heifetz). Hasil analisis SWOT mengindikasikan bahwa organisasi militer Indonesia memiliki kekuatan signifikan berupa kemampuan memotivasi dan menginspirasi prajurit, serta peluang besar melalui dukungan kebijakan nasional dan kemajuan teknologi. Namun, hambatan berupa resistensi terhadap perubahan dan keterbatasan pelatihan tetap menjadi tantangan yang harus diatasi. Dengan skor IFAS sebesar 2,5 dan EFAS sebesar 3,0, organisasi militer berada pada kuadran Strengths–Opportunities yang menandakan posisi strategis untuk melakukan transformasi dan modernisasi sistem pertahanan. Integrasi kepemimpinan transformasional dan adaptif menghasilkan model kepemimpinan yang mengharmonisasikan inspirational leadership dan fleksibilitas organisasi dalam menghadapi ketidakpastian global. Model ini berpotensi mengoptimalkan mobilisasi sumber daya manusia, teknologi, dan alam demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang berdaulat, maju, adil, dan makmur. Kesimpulannya, pengembangan kepemimpinan militer yang adaptif, visioner, dan inovatif merupakan instrumen kunci dalam mengatasi tantangan keamanan nasional serta mengakselerasi reformasi pertahanan secara berkelanjutan.