Keterampilan kolaborasi dan empati merupakan komponen krusial dalam Social-Emotional Learning (SEL) dan keterampilan abad ke-21. Namun, pasca-pandemi, terdapat indikasi penurunan keterampilan sosial siswa akibat berkurangnya interaksi tatap muka. Pembelajaran interaksi sosial, khususnya dalam konteks IPS di Sekolah Dasar, memegang peran sentral dalam memitigasi hal ini. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan, mensintesis, dan menganalisis tren penelitian selama satu dekade terakhir (2016-2025) mengenai model pembelajaran interaksi sosial yang digunakan untuk mengembangkan kolaborasi dan empati, metode asesmen yang digunakan, serta tantangan implementasinya. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti protokol PRISMA 2020. Pencarian artikel dilakukan pada database Google Scholar, SINTA, dan ERIC, dengan total 25 artikel yang memenuhi kriteria inklusi untuk dianalisis secara tematik. Ditemukan bahwa (1) Pembelajaran Kooperatif (64%) menjadi model yang mendominasi, mengindikasikan adanya "zona nyaman" metodologis; (2) Terdapat kesenjangan asesmen yang kritis: kolaborasi diukur mayoritas melalui observasi guru (subjektif), sementara empati diukur melalui angket self-report siswa (rentan social desirability bias); (3) Meskipun 92% studi melaporkan "keberhasilan" (dominan PTK), tantangan nyata seperti manajemen kelas dan alokasi waktu secara konsisten dilaporkan. Terdapat kebutuhan mendesak untuk menggeser fokus dari sekadar penerapan model pembelajaran menuju pengembangan instrumen asesmen keterampilan sosial yang lebih autentik dan objektif di sekolah dasar.