Keberagaman budaya di sekolah sering memunculkan kesalahpahaman dan ketegangan sosial, termasuk di SMPN 2 Dawe, di mana perbedaan kebiasaan dan latar belakang kerap menimbulkan salah tafsir antar siswa sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang memperkuat empati dan interaksi harmonis. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan video interaktif dalam pembelajaran IPS serta mengkaji perannya dalam menumbuhkan sikap toleransi siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, melibatkan guru IPS kelas VIII dan peserta didik kelas VIII. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi dengan instrumen lembar observasi, pedoman wawancara, serta catatan reflektif. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video interaktif meningkatkan keterlibatan emosional, mendorong respons empatik, memperkuat keterbukaan komunikasi, serta membantu siswa melakukan refleksi moral. Fitur jeda reflektif memudahkan siswa menafsirkan situasi multikultural dan menghubungkannya dengan pengalaman sosial nyata. Faktor pendukung meliputi kesiapan guru dan relevansi konten lokal, sedangkan kendala muncul dari keterbatasan teknis, waktu pembelajaran, dan variasi kesiapan siswa. Penelitian ini terbatas pada satu konteks sekolah sehingga penelitian selanjutnya perlu dilakukan pada lingkungan berbeda untuk memperluas generalisasi dan mengembangkan strategi pembelajaran toleransi yang berkelanjutan.