Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana persepsi Generasi Z terhadap konten self healing yang tersebar di platform media sosial Instagram. Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, konten self-healing menjadi alternatif yang sering diakses oleh Gen Z sebagai bentuk dukungan emosional mandiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi media sosial. Informan dipilih secara purposive berdasarkan kriteria usia 17–25 tahun, aktif menggunakan Instagram, serta pernah mengakses konten self-healing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gen Z memiliki persepsi yang beragam terhadap konten self-healing. Sebagian besar merasa bahwa konten tersebut memberikan efek positif berupa motivasi, ketenangan, dan validasi emosional. Namun, terdapat pula persepsi kritis terhadap konten yang dianggap terlalu dangkal, menyesatkan, atau memicu toxic positivity dan tekanan sosial baru. Proses pengkodean menghasilkan beberapa tema utama seperti "self-reflection", "emotional support", dan "critical skepticism". Penelitian ini menyimpulkan bahwa konten self-healing dapat menjadi sarana penyadaran dan dukungan emosional jika dikemas secara edukatif, jujur, dan relevan. Oleh karena itu, penting bagi content creator dan pengguna media sosial untuk memilah dan memahami konten dengan literasi yang baik guna menghindari dampak negatif.