Banyak pendekatan untuk mengatur pembelajaran sejarah di Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas, relevansi konteks, dan penguatan kemampuan siswa. Penelitian ini merangkum prinsip-prinsip penting yang dapat digunakan guru dalam merancang pembelajaran melalui peninjauan literatur dengan metode kualitatif deskriptif. Kajian menunjukkan bahwa proses perencanaan yang efektif dimulai dengan pemahaman yang mendalam tentang Capaian Pembelajaran (CP). Selanjutnya, alur tujuan pembelajaran (ATP) yang runtut dan sesuai dengan tahap perkembangan siswa dibuat. Terbukti bahwa kemampuan berpikir historis siswa dan keterlibatan mereka dapat ditingkatkan dengan membuat modul ajar berbasis konteks dan memanfaatkan sumber sejarah asli dan media digital. Selain itu, model seperti pembelajaran berbasis proyek (PjBL), pembelajaran berbasis masalah (PBL), dan pendekatan inkuiri memberikan kesempatan yang lebih besar bagi siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar mereka dan meningkatkan kemampuan analitis mereka. Asesmen formatif dan sumatif sangat penting untuk melacak kemajuan siswa dan meningkatkan proses pembelajaran. Secara umum, pembelajaran sejarah di kurikulum bebas akan lebih bermanfaat jika dilakukan dengan cara yang sistematis, kontekstual, dan berpusat pada siswa.