Penelitian ini ingin melihat konstruksi sosial Gerakan #boikotTranscrop atas pemberitaan pondok pesantren lirboryo dengan menggunakan analisis Berger. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan jenis kualitati deskriptif dengan studi kepustkaan. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan gerakan #boikottrans7 adalah hasil resistemsi atas konstruksi sosial utama pada pemberitaan konten Xpose Uncensored: Santrinya Minum Susu Aja Kudu Jongkok, Emang Gini Kehidupan Pondok? trans7yang di inisiasi oleh pmii membawa proses sosial secara simultan melalui eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Pada tahap eksternalisasi, media menampilkan tiga bingkai utama: (1) tradisi minum susu sambil jongkok sebagai praktik irasional; (2) representasi kiayi sebagai figur yang memperoleh keuntungan dari pemberian amplop santri; serta (3) relasi kuasa pesantren yang digambarkan feodal dan eksploitatif. Narasi ini kemudian mengalami objektivasi ketika konten menyebar ke media sosial dan diterima sebagai pengetahuan kolektif masyarakat digital. Namun, pada tahap internalisasi, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menolak konstruksi tersebut karena tidak sesuai dengan pengalaman internal dan nilai-nilai pesantren. Resistensi ini ditunjukkan melalui surat instruksi, aksi demonstrasi, kampanye #boikotTransCorp, serta pelaporan ke Dewan Pers. Respons balik Trans7 berupa permohonan maaf, pemutusan kerja sama dengan rumah produksi, dan kunjungan ke pesantren menegaskan bahwa konstruksi realitas media bersifat dinamis, dapat diperdebatkan, ditolak, dan dinegosiasikan ulang. Temuan ini menunjukkan bahwa media merupakan arena pertarungan makna, di mana publik berperan aktif dalam memengaruhi dan mengoreksi konstruksi media.