Penelitian ini berangkat dari pandangan sosiologi pendidikan yang kritis, yakni bahwa sekolah berpotensi mereproduksi ketidaksetaraan sosial karena faktor non-kognitif, terutama ekspektasi guru, secara krusial memengaruhi prestasi siswa. Fenomena self-fulfilling prophecy (Efek Pygmalion) menegaskan bahwa keyakinan otoritas guru dapat mengubah kinerja siswa, dan dipandang sebagai mekanisme sosial penting dalam reproduksi ketidaksetaraan ini. Tujuan utama penelitian ini adalah melakukan sintesis teoritis untuk mengintegrasikan Teori Labeling Sosial (Becker, 1963) dengan konsep SFP (Rosenthal, 1968) guna mengurai bagaimana labeling secara eksplisit memediasi ekspektasi guru menjadi identitas dan hasil akademik siswa. Metode yang digunakan adalah Penelitian Kepustakaan (Library Research) dengan desain Sintesis Teoritis dan Analisis Isi Kualitatif. Sumber data, yang meliputi karya fundamental dan jurnal akademik bereputasi, dikumpulkan melalui Dokumentasi Sistematis dan Purposive Sampling dan dianalisis untuk membangun model konseptual mediasi labeling. Proses ini direncanakan berlangsung selama tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi guru dibentuk oleh dimensi kognitif, perilaku, dan terutama sosial-struktural siswa. Labeling Sosial berfungsi sebagai variabel mediasi kunci; label positif ("Siswa Unggul") mengaktifkan Efek Pygmalion melalui perlakuan khusus (iklim hangat, umpan balik berkualitas), sementara label negatif ("Siswa Lambat") memicu Efek Golem melalui penarikan dukungan. Temuan anomali menyoroti bahwa efek ini tidak absolut dan dapat dinetralkan oleh Resistensi Siswa dan Kompetensi Reflektif Guru. Kesimpulan, penelitian ini memberikan kontribusi teoritis yang memperkaya sosiologi pendidikan dengan menegaskan bahwa labeling sosial adalah mekanisme reproduksi ketidaksetaraan di level mikro kelas. Implikasi temuan ini menuntut reformasi pada praktik guru (pelatihan kesadaran bias dan audit interaksi) dan kebijakan sekolah (implementasi Intervensi Counter-Golem dan pelonggaran sistem tracking) untuk menciptakan kesetaraan interaksional. Rekomendasi adalah penelitian empiris kualitatif lanjutan di konteks Indonesia untuk menguji model mediasi ini dan mengukur agensi siswa.