Kabupaten Karo merupakan wilayah rawan bencana geologi akibat aktivitas vulkanik Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Kawasan Pemandian Air Panas Sidebuk-debuk berkembang sebagai destinasi wisata berbasis energi panas bumi, namun pemanfaatan kawasan ini juga memicu perubahan lingkungan dan meningkatkan risiko bencana, seperti longsor yang terjadi tahun 2024. Masyarakat lokal Karo memiliki kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun terkait pembacaan tanda-tanda alam melalui perubahan karakteristik air panas. Penelitian ini bertujuan mengkaji pemanfaatan Pemandian Air Panas Sidebuk-debuk sebagai bagian dari mitigasi bencana berbasis kearifan lokal serta integrasinya dengan sistem manajemen bencana modern. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta studi dokumentasi kebijakan kebencanaan dan tata ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan suhu, bau, warna, dan volume air panas digunakan masyarakat sebagai indikator aktivitas vulkanik dan berfungsi sebagai sistem peringatan dini tradisional. Namun, praktik tersebut belum terintegrasi secara optimal dengan kebijakan formal dan pendekatan teknokratik institusi kebencanaan. Kesimpulan penelitian menunjukkan perlunya integrasi kearifan lokal masyarakat Karo dengan manajemen bencana modern guna mendukung mitigasi yang adaptif, berkelanjutan, serta memperkuat ketahanan komunitas di kawasan rawan bencana.