Kompleksitas sistem operasi modern mendorong peningkatan ukuran dan fungsi kernel pada arsitektur monolitik, yang berimplikasi pada meningkatnya permukaan kesalahan (attack surface) serta risiko kegagalan sistem secara menyeluruh. Sebagai alternatif, arsitektur microkernel mengusung prinsip minimalisme dengan membatasi fungsi kernel hanya pada layanan esensial, sementara komponen lain dijalankan di ruang pengguna. Artikel ini bertujuan untuk meninjau dan menganalisis manajemen sumber daya—khususnya penjadwalan CPU dan manajemen memori—pada sistem operasi yang menggunakan arsitektur microkernel. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan narrative literature review terhadap jurnal ilmiah, prosiding konferensi, dan dokumentasi teknis yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa microkernel menawarkan keunggulan signifikan dalam hal isolasi kesalahan, keamanan, dan maintainability. Namun demikian, arsitektur ini juga menghadapi tantangan berupa overhead kinerja akibat intensitas komunikasi antar-proses (Inter-Process Communication/IPC). Dengan adanya optimasi modern seperti fast-path IPC dan zero-copy, microkernel tetap relevan untuk sistem yang menuntut keandalan tinggi, seperti sistem embedded dan real-time.