Ungkapan “penyesalan Allah” dalam Alkitab sering menimbulkan kebingungan dan dianggap bertentangan dengan doktrin ketidakberubahan Allah. Kejadian 6:6 menyatakan bahwa Allah menyesal telah menciptakan manusia, sedangkan Bilangan 23:19 menegaskan bahwa Allah tidak menyesal seperti manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna teologis ungkapan tersebut dalam perspektif teologi Alkitab dengan mengintegrasikan kajian literatur dan hasil wawancara kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dan wawancara mendalam dengan lima narasumber yang terdiri dari mahasiswa teologi, pendeta, dosen teologi, guru sekolah minggu, dan jemaat awam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan “penyesalan Allah” merupakan bahasa antropomorfis yang menyatakan kesedihan Allah terhadap dosa manusia, bukan perubahan natur atau kesalahan Allah. Sementara itu, Bilangan 23:19 menegaskan ketidakberubahan Allah dalam kehendak dan janji-Nya. Dengan demikian, kedua teks tersebut tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam menyatakan karakter Allah yang kudus, dan penuh kasih.