Restoran Mie Mapan, yang dimulai sebagai usaha rumahan pada tahun 1992, kini telah berkembang menjadi jaringan dengan 26 outlet di Jawa Timur dan Jabodetabek. Mereka bergantung pada pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia untuk menjaga kualitas produk dan kepuasan pelanggan. Mini riset ini bertujuan untuk memahami persepsi staf dapur mengenai pelaksanaan pelatihan sumber daya manusia, memaknai manfaatnya, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi di outlet Mie Mapan di Jl. Rungkut Mapan Tengah I Blok FB No. 11, Surabaya. Populasi terdiri dari 16 staf dapur, dari mana 4 orang (2 laki-laki dan 2 perempuan) diambil secara purposive sampling. Wawancara mendalam dan dokumentasi dilakukan pada 12 Desember 2025. Variabel independen adalah pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia, sedangkan variabel dependen adalah persepsi karyawan (Sugiyono, 2013). Hasil wawancara menunjukkan persepsi positif secara keseluruhan. Pelatihan dinilai relevan dengan tugas dapur, seperti SOP, teknik memasak, dan gramasi. Metode praktik langsung dengan bimbingan senior terbukti efektif dan meningkatkan kepercayaan diri, keterampilan, serta kualitas produk. Manfaat utama meliputi penguasaan berbagai menu, kemampuan beradaptasi dengan cepat, dan kontribusi terhadap pelayanan yang optimal. Hal ini sejalan dengan temuan Savitri dkk. (2016), Muliadi (2021), Turachma & Hendarsjah (2021), serta Kartini dkk. (2024). Faktor yang memengaruhi termasuk kesesuaian materi, pendekatan pelatihan on-the-job (Dinata, 2025), dan latar belakang individu di bidang makanan dan minuman; durasi pelatihan yang singkat menjadi kekurangan bagi pemula. Kesimpulannya, pelatihan di Mie Mapan efektif dalam membentuk persepsi positif dan mendukung produktivitas, meskipun perlu memperpanjang durasi pelatihan untuk inklusivitas. Rekomendasi: tingkatkan program dengan evaluasi berkala dan sediakan jalur karir yang jelas untuk pengembangan sumber daya manusia yang berkelanjutan.