Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman dan makna pemanfaatan Daerah Aliran Tepi Sungai (DATS) Rawalumbu Bekasi sebagai taman bermain dan jogging track ramah disabilitas, mengatasi isu eksklusi spasial di ruang publik urban Indonesia. Pendekatan fenomenologi kualitatif digunakan untuk mengungkap lived experience partisipan, dengan pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur mendalam (12 penyandang disabilitas: tunanetra, tunadaksa, tunarungu), observasi partisipatif 20 jam, dan dokumentasi lapangan selama Oktober-Desember 2025 di Bekasi. Analisis data interaktif Miles & Huberman mengidentifikasi tiga tema utama: hambatan fisik-spasial (jalur taktil absen, pencahayaan minim), makna emosional ruang fluvial sebagai integrasi komunal terapeutik, dan adaptasi sosial organik melalui pos jaga sukarela. Temuan mengisi kesenjangan literatur dengan model "DATS Inklusif" yang memperluas teori Desain Universal Ron Mace melalui dimensi budaya-ekologis lokal, berbeda dari studi struktural kuantitatif sebelumnya. Secara praktis, rekomendasi mencakup ramp anti-erosi, wahana sensorik berbasis sungai, dan lampu induksi untuk kebijakan RTH Bekasi. Saran penelitian lanjut: studi mixed-methods komparatif DATS Jawa Barat pasca-revitalisasi.