Pantai Hukurila memiliki potensi alam dan budaya yang tinggi, namun menghadapi paradoks berupa rendahnya kunjungan wisata (<1000 orang/ tahun), tingginya pengangguran terselubung 28%, degradasi lingkungan, dan ancaman erosi kearifan lokal Sasi. Permasalahan inti adalah belum adanya model ekowisata berbasis komunitas yang terpadu dan berkelanjutan untuk mentransformasi potensi menjadi kesejahteraan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi daya tarik alam dan budaya Pantai Hukurila serta merumuskan kerangka pengembangan ekowisata berbasis komunitas yang kontekstual dan berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci (pemangku adat, perwakilan kelompok masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha) yang dipilih secara purposif. Data dianalisis dengan teknik analisis tematik. Penelitian mengungkap empat temuan kunci: (1) Sasi dipahami sebagai filosofi "bank alam" yang menjadi modal sosial utama, namun terancam diskontinuitas pengetahuan antargenerasi; (2) terdapat kesiapan ekonomi dari perajin dan nelayan, namun terkendala akses pasar dan kapasitas; (3) hambatan utama terletak pada lemahnya kelembagaan pengelola dan infrastruktur dasar; (4) terdapat konsensus kuat untuk membangun model tata kelola kolaboratif yang melibatkan multi-pemangku kepentingan. Secara teoretis temuan menegaskan pentingnya pendekatan kritis terhadap kearifan lokal sebagai sistem dinamis. Secara praktis diperlukan intervensi terpadu: pendokumentasian Sasi dan pembentukan BUMNe di level komunitas; perbaikan infrastruktur dan regulasi pendukung dari pemerintah daerah; serta program pendampingan terintegrasi dari perguruan tinggi dan LSM.