Perkembangan teknologi digital selama dua puluh tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi, termasuk dalam membentuk dinamika pengalaman spiritual, terutama bagi generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan yang sepenuhnya terhubung secara digital. Dalam konteks ini, penelitian ini mengkaji tantangan yang dihadapi Jemaat Bethel Fakfak dalam menjaga keseimbangan antara pola pembinaan iman tradisional dengan kebutuhan rohani pemuda yang dipengaruhi oleh budaya digital yang serba cepat dan interaktif. Berlandaskan teori tahapan iman James W. Fowler, studi ini menelaah bagaimana media digital dapat diadaptasikan untuk mendukung proses pendampingan iman yang lebih responsif, relevan dengan konteks sosial, serta sesuai dengan perkembangan tiap individu. Melalui pendekatan kualitatif studi kasus yang memanfaatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan penelusuran dokumentasi, penelitian ini memperoleh gambaran yang utuh mengenai praktik pelayanan digital, tantangan implementasi, serta kebutuhan nyata pemuda di lingkungan sosial budaya Fakfak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan integrasi iman dan teknologi sangat ditentukan oleh beberapa strategi penting, seperti pembentukan tim media digital yang memiliki kompetensi teknis dan spiritual, pemilihan platform yang sesuai karakteristik pemuda, peningkatan kapasitas para pelayan rohani dalam literasi digital, dan penguatan kerja sama lintas sektor. Selain itu, kerja yang sinkron antara praktik pelayanan digital dan pendekatan konvensional dinilai penting untuk menghindari potensi keterasingan sosial maupun spiritual di kalangan jemaat. Secara keseluruhan, digitalisasi yang dikelola dengan bijak dapat memperkokoh komunitas iman agar tetap inklusif, adaptif, dan relevan di tengah perubahan budaya modern yang berlangsung sangat cepat.