Penelitian ini bertujuan mengkaji ketahanan Rahel dalam kehidupan keluarga poligami berdasarkan Kejadian 29:30–35 dan 30:1–4, dengan menyoroti dimensi teologis mengenai penderitaan, perjuangan iman, serta agensi perempuan dalam struktur patriarkal. Kajian ini berfokus pada pengalaman Rahel dan Lea sebagai perempuan yang hidup dalam relasi keluarga yang tidak seimbang, sekaligus melihat bagaimana karya Allah dinyatakan di tengah situasi tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan tafsir naratif dan teologi kontekstual. Analisis dilakukan dengan memperhatikan latar sosial-budaya Timur Dekat kuno, sistem patriarki, serta dinamika emosional dan spiritual yang muncul dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rahel dan Lea sama-sama mengalami penderitaan akibat struktur relasional yang timpang. Rahel menghadapi tekanan sosial karena kemandulannya, sedangkan Lea mengalami luka batin akibat kurangnya kasih dari Yakub. Dalam situasi tersebut, Allah digambarkan sebagai Pribadi yang melihat penderitaan manusia dan tetap bekerja di tengah ketidakadilan relasi keluarga. Tindakan Rahel menyerahkan Bilha kepada Yakub dipahami bukan sekadar sebagai bentuk kelemahan iman, melainkan sebagai upaya mempertahankan martabat dan keberadaannya dalam sistem yang membatasi perempuan. Di sisi lain, perubahan sikap Lea yang akhirnya memusatkan hidupnya kepada Tuhan memperlihatkan pertumbuhan iman yang lahir melalui pengalaman penderitaan.Dengan demikian, kisah Rahel dan Lea menegaskan bahwa iman perempuan dalam Alkitab berkembang melalui pergumulan hidup yang nyata. Narasi ini sekaligus memperlihatkan kesetiaan Allah yang terus hadir dan memulihkan martabat manusia di tengah struktur kehidupan yang tidak adil.