Penelitian ini mengkaji puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul dan “Sajak Sebatang Lisong” karya W.S. Rendra menggunakan pendekatan sosiologi sastra Alan Swingewood. Kedua puisi dipilih karena muncul dari konteks sosio-politik Orde Baru yang sama, namun mengekspresikan perlawanan dengan cara yang berbeda. Penelitian menggunakan metode deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif. Analisis dilakukan melalui tiga pendekatan Swingewood: sastra sebagai cerminan masyarakat, pengaruh posisi sosial penulis, dan fungsi sosial sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua puisi merefleksikan realitas Orde Baru dari perspektif yang berbeda; perbedaan posisi sosial antara Thukul sebagai aktivis kelas bawah dan Rendra sebagai intelektual-seniman terpelajar membentuk perbedaan dalam ekspresi estetika mereka; serta kedua puisi memiliki fungsi sosial yang berbeda namun saling melengkapi dalam sastra perlawanan Indonesia.