Penelitian ini mengkaji sistem tanda, matriks, dan hipogram dalam dua puisi berjudul “Sajak Putih” karya Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono menggunakan pendekatan semiotika Riffaterre. Tujuan penelitian adalah menganalisis persamaan dan perbedaan sensibilitas puitik kedua penyair dalam mengungkapkan tema cinta, waktu, dan kematian. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitis dengan teknik close reading. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chairil Anwar mendominasi penggunaan simbol dengan intensitas emosional yang eksplosif dan ikonik, sedangkan Sapardi Djoko Damono lebih mengandalkan indeks yang halus dan bergerak secara liris. Matriks kedua puisi bertumpu pada kerinduan akan kehadiran yang abadi, namun hipogram yang digunakan berbeda secara kontekstual: Chairil berpijak pada tradisi romantisisme Barat, sementara Sapardi menyerap estetika Zen dan kesederhanaan Jawa. Penelitian ini memperkaya pemahaman sastra bandingan Indonesia melalui pisau semiotika Riffaterre.