Artikel ini mengkaji sistem tanda sebagai mitologi dalam dua puisi representatif kesusastraan Indonesia modern, yaitu Ibu karya Chairil Anwar dan Hatiku Selembar Daun karya Sapardi Djoko Damono, menggunakan kerangka semiotika Roland Barthes yang berfokus pada konsep mitos sebagai sistem semiotika tingkat kedua. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif-komparatif dan teknik close reading, penelitian ini memetakan lapisan denotasi, konotasi, serta konstruksi mitos pada masing-masing puisi. Temuan menunjukkan bahwa kedua puisi membangun sistem semiotika tingkat kedua yang berbeda secara ideologis: Ibu mengkonstruksi mitos ketahanan dan identitas diri heroik yang berakar pada semangat Angkatan '45, sementara Hatiku Selembar Daun membangun mitos kepasrahan eksistensial melalui citra alam yang sederhana dan meditatif. Strategi naturalisasi keduanya pun berbeda Chairil Anwar mengandalkan diksi tajam, enjambemen, dan tekanan struktural, sedangkan Sapardi Djoko Damono memilih repetisi, irama mengalir, dan struktur siklikal. Penelitian ini berkontribusi pada pengayaan kajian semiotika Barthes di ranah puisi Indonesia sekaligus menyediakan model analisis komparatif yang dapat diadaptasi untuk teks sastra lain.