Penelitian ini mengkaji proses internalisasi pendidikan kewirausahaan pada 10 siswa kelas 12 dari tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bandung, Indonesia, melalui integrasi metodologi bisnis modern dan teori psikologi pembelajaran. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terstruktur yang mencakup dua segmen utama: pola belajar (Kognitif, Konstruktivisme, Humanisme, dan Behaviorisme) dan ekspektasi sosial. Hasil penelitian mengungkap adanya kesenjangan kognitif struktural yang signifikan di antara para siswa, yang bersumber dari metode pembelajaran di kelas yang cenderung terlalu abstrak dan teoritis. Para siswa secara mandiri memitigasi kesenjangan ini melalui pemanfaatan platform digital visual (YouTube dan TikTok Edukasi) sebagai instrumen scaffolding kognitif sekunder. Secara konstruktif, seluruh informan mengakui urgensi materi kewirausahaan sebagai peluang bisnis nyata dan secara kolektif memilih pendekatan Minimum Viable Product (MVP) yang selaras dengan Lean Startup Methodology, memaknai kegagalan sebagai validated learning untuk memandu langkah perbaikan strategis (pivot). Dari perspektif konstruktivisme sosial (ZPD Vygotsky), beragam bentuk dukungan sosial—mulai dari dukungan mutlak hingga skeptisisme protektif dari orang tua dan teman sebaya—tidak melemahkan intensi wirausaha siswa; sebaliknya, dukungan yang bersifat menantang justru memperkuat ketahanan mental dan kemampuan kalkulasi risiko mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekosistem terintegrasi yang memadukan Lean Startup, BMC, MVP, pembelajaran berbasis pengalaman, dan scaffolding sosio-kognitif membentuk kerangka yang kuat dalam menumbuhkan kompetensi kewirausahaan adaptif di pendidikan kejuruan.