Perang merupakan salah satu realitas yang sering ditemukan dalam sejarah umat manusia, termasuk dalam narasi Perjanjian Lama. Dalam tradisi Israel, peperangan tidak hanya dipahami sebagai konflik politik atau militer, tetapi juga sebagai peristiwa yang memiliki dimensi teologis karena berkaitan erat dengan kehendak, penyertaan, dan kedaulatan Allah. Kitab Samuel secara khusus menampilkan hubungan antara peperangan, kepemimpinan, dan legitimasi ilahi melalui tokoh Saul dan Daud sebagai pemimpin Israel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis legitimasi ilahi dalam kepemimpinan militer Israel berdasarkan teologi perang dalam Kitab Samuel dari perspektif Teologi Perjanjian Lama. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Data diperoleh dari Alkitab sebagai sumber primer dan berbagai buku, jurnal ilmiah, serta literatur teologi sebagai sumber sekunder. Analisis dilakukan melalui pendekatan deskriptif-teologis dan historis-kontekstual dengan menggunakan teori kepemimpinan karismatik Max Weber sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan dalam Israel bersumber dari pemilihan dan penyertaan Allah. Saul memperoleh legitimasi ilahi melalui pengurapan Samuel, tetapi kehilangan otoritas tersebut akibat ketidaktaatannya kepada Allah. Sebaliknya, Daud mempertahankan legitimasi ilahi melalui ketaatan, ketergantungan kepada Tuhan, dan kesediaannya untuk bertobat. Penelitian ini juga menemukan bahwa keberhasilan militer Israel dalam Kitab Samuel tidak terutama ditentukan oleh kekuatan pasukan atau strategi perang, melainkan oleh relasi spiritual pemimpin dengan Allah. Dengan demikian, teologi perang dalam Kitab Samuel menegaskan bahwa legitimasi ilahi, kepemimpinan militer, dan ketaatan kepada Allah merupakan unsur yang saling berkaitan dalam membentuk kepemimpinan Israel. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan studi Teologi Perjanjian Lama, khususnya dalam kajian perang, kepemimpinan, dan legitimasi ilahi.