Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep oikumene dalam tradisi Katolik dan Protestan serta implikasinya bagi identitas gereja di era pascamodern. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan melalui analisis berbagai literatur teologis, dokumen gerejawi, buku, dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan oikumene, eklesiologi, dan pascamodernisme. Analisis dilakukan secara deskriptif-komparatif untuk mengidentifikasi persamaan, perbedaan, dan titik temu antara kedua tradisi dalam memahami kesatuan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Katolik memahami oikumene sebagai upaya menuju kesatuan yang tampak melalui kesatuan iman, sakramen, dan struktur gerejawi, sedangkan tradisi Protestan lebih menekankan kesatuan spiritual yang diwujudkan melalui persekutuan iman, dialog, dan kerja sama misi. Meskipun memiliki perbedaan mendasar dalam hal otoritas, sakramen, dan konsep gereja universal, kedua tradisi memiliki titik temu pada pengakuan akan Kristus sebagai dasar kesatuan gereja serta pentingnya kesaksian bersama di tengah dunia. Dalam konteks pascamodern yang ditandai oleh pluralisme, relativisme, dan krisis otoritas, oikumene memberikan kontribusi bagi rekonstruksi identitas gereja yang dialogis, rekonsiliatif, dan kontekstual tanpa kehilangan fondasi teologisnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa identitas gereja di era pascamodern perlu dibangun melalui keseimbangan antara keteguhan teologis dan keterbukaan terhadap dialog sebagai bentuk nyata kesatuan dalam keberagaman.