Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna liminalitas dalam ritual ibadah sivitas akademika bagi mahasiswa STT GPI Papua melalui tradisi doa persiapan di depan kelas sebelum memasuki ruang ibadah. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan teori liminalitas Victor Turner sebagai pisau analisis utama. Fokus penelitian diarahkan pada pengalaman transisi mahasiswa ketika meninggalkan identitas akademik menuju identitas spiritual sebagai pelayan dan penyembah dalam ibadah. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap beberapa informan, observasi lapangan, dan dokumentasi tata ibadah kampus. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis tematik dengan proses pengodean terhadap tema-tema utama seperti transisi, kesetaraan, dan pengalaman spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doa persiapan di depan kelas menjadi ruang liminal yang menempatkan mahasiswa pada kondisi “betwixt and between”, yaitu berada di antara dua identitas sosial dan spiritual. Dalam fase tersebut mahasiswa mengalami perubahan kesadaran, kesiapan mental, dan penguatan spiritual sebelum melayani ibadah. Penelitian ini juga menemukan bahwa ritual tersebut melahirkan pengalaman communitas, yakni perasaan kebersamaan dan kesetaraan di hadapan Tuhan yang mampu mengurangi batas-batas hierarkis antara dosen, senior, dan mahasiswa. Dengan demikian, ritual doa persiapan tidak hanya berfungsi sebagai bagian teknis liturgi, tetapi juga menjadi ruang transformasi spiritual dan sosial dalam kehidupan sivitas akademika STT GPI Papua. Penelitian ini memperlihatkan bahwa konsep liminalitas tidak hanya hadir dalam ritual adat, tetapi juga nyata dalam praktik ibadah sehari-hari di lingkungan pendidikan teologi.