Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna teologis Keluaran 6:1–12, mengkaji peran kepercayaan diri guru Sekolah Minggu dalam pendidikan Kristen, serta menjelaskan implikasinya terhadap pembentukan perspektif kepemimpinan anak. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi literatur, analisis dokumen, dan kajian eksegesis terhadap teks Keluaran 6:1–12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi Musa menggambarkan kepemimpinan yang dibentuk melalui proses pergumulan, keraguan diri, dan ketergantungan kepada Allah. Kepercayaan diri guru Sekolah Minggu berperan penting dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran, membangun relasi yang positif dengan anak, serta menjadi teladan dalam menginternalisasikan nilai-nilai kepemimpinan Kristiani. Nilai-nilai kepemimpinan Musa yang relevan bagi anak meliputi ketaatan, ketekunan, tanggung jawab, keberanian menghadapi keterbatasan, dan ketergantungan kepada Allah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembentukan perspektif kepemimpinan anak memerlukan integrasi antara pengajaran Alkitab, keteladanan guru, dan pembinaan karakter secara holistik. Guru Sekolah Minggu yang memiliki kepercayaan diri, integritas, dan pemahaman yang baik terhadap panggilan pelayanannya dapat menjadi sarana yang efektif dalam membentuk generasi yang memahami kepemimpinan sebagai panggilan untuk melayani dan memuliakan Allah.