Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep panggilan (Beruf) dalam pemikiran Max Weber serta menelaah relevansinya terhadap praktik pelayanan pastoral di Gereja Protestan Indonesia (GPI) Papua. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan wawancara terhadap pendeta GPI Papua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pendeta memaknai panggilan pelayanan bukan sebagai profesi keagamaan semata, melainkan sebagai pengalaman spiritual dan eksistensial yang membentuk identitas, orientasi hidup, serta komitmen pelayanan mereka. Di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, budaya, dan geografis, panggilan dipahami sebagai sumber motivasi yang mendorong kesetiaan dalam pelayanan. Temuan penelitian juga memperlihatkan adanya ketegangan antara idealisme teologis mengenai panggilan dan realitas pelayanan yang kompleks. Namun, ketegangan tersebut justru menjadi ruang pembentukan makna dan pendalaman spiritualitas pelayanan. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa konsep Beruf mengalami rekontekstualisasi dalam konteks Papua. Jika Weber menekankan dimensi individual dan etos kerja religius, maka dalam konteks Papua panggilan berkembang menjadi spiritualitas yang bersifat komunal dan relasional, yang menghubungkan tanggung jawab kepada Allah dengan keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, konsep Beruf tetap relevan sebagai kerangka analisis sosiologis dan teologis untuk memahami dinamika pelayanan gereja dalam konteks lokal Papua.