risis lingkungan yang semakin kompleks telah menjadi salah satu tantangan global yang tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, moral, dan spiritual kehidupan manusia. Kondisi ini menuntut gereja untuk menghadirkan respons teologis yang relevan dalam menghadapi berbagai bentuk kerusakan lingkungan yang terus terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ekoteologi sebagai respons gereja terhadap krisis lingkungan melalui pendekatan dogmatis yang berlandaskan doktrin penciptaan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) dan analisis teologi dogmatis terhadap berbagai sumber Alkitab serta literatur teologi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis lingkungan merupakan persoalan teologis yang berakar pada relasi manusia yang tidak harmonis dengan Allah dan ciptaan. Doktrin penciptaan menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemilik seluruh ciptaan, sementara manusia dipanggil untuk menjalankan mandat pemeliharaan sebagai penatalayan yang bertanggung jawab. Berdasarkan landasan tersebut, ekoteologi hadir sebagai kerangka teologis yang mengkritik paradigma antroposentris, menegaskan nilai intrinsik seluruh ciptaan, dan mendorong keterlibatan gereja dalam upaya pelestarian lingkungan. Implikasi ekoteologis diwujudkan melalui pendidikan dan pembinaan jemaat, pengembangan liturgi dan spiritualitas ekologis, keterlibatan dalam konservasi lingkungan, serta peran gereja sebagai agen transformasi ekologis di tengah masyarakat. Dengan demikian, ekoteologi yang berakar pada doktrin penciptaan menjadi dasar teologis yang penting bagi gereja dalam merespons krisis lingkungan secara holistik dan berkelanjutan.