Penelitian ini tentang perubahan dalam praktik tradisi khitanan massal akibat pengaruh modernitas, khususnya dalam penggunaan metode medis modern. Tradisi khitanan massal yang awalnya sarat dengan nilai ritual dan simbolik kini mengalami transformasi pada aspek teknis pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi adaptasi kelembagaan adat dalam mempertahankan tradisi khitanan massal di tengah arus modernisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus intrinsik. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi adaptasi kelembagaan adat terwujud melalui empat dimensi skema AGIL Talcott Parsons. Dari sisi adaptasi, diterapkan hibridisasi teknis dengan menerima alat medis modern, sementara prosesi ritual tetap dijalankan utuh. Dari sisi pencapaian tujuan, kelembagaan adat memadukan pelestarian identitas budaya dan kewajiban keagamaan dengan standar keselamatan medis secara bersamaan. Dari sisi integrasi, terbentuk kolaborasi terstruktur antara ketua adat, pemerintah desa, tokoh agama, dan tenaga medis yang saling melengkapi demi menjaga kohesi sosial. Dari sisi pemeliharaan pola, ketua adat memelihara nilai dan simbol budaya melalui transmisi antargenerasi agar makna kolektif tradisi tetap terjaga. Keunikan strategi ini terletak pada kemampuan kelembagaan adat dalam memosisikan modernitas sebagai instrumen yang diseleksi secara kultural untuk memperkuat keberlanjutan tradisi.