Tradisi Mandi Safar merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Melayu di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, yang masih dilaksanakan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolis yang terkandung dalam tradisi Mandi Safar, meliputi aspek penyucian diri, penolak bala, nilai religius, serta solidaritas sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap masyarakat Desa Tanjung Medang yang terlibat dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Dari aspek sosial budaya, tradisi Mandi Safar juga berperan penting dalam memperkuat hubungan antaranggota masyarakat. Pelaksanaan ritual yang dilakukan secara bersama-sama menciptakan interaksi sosial, rasa kebersamaan, dan semangat gotong royong. Masyarakat terlibat mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan kegiatan, sehingga tradisi ini menjadi ruang untuk mempererat tali silaturahmi dan mempertahankan solidaritas sosial masyarakat Melayu Pulau Rupat. Selain itu, keberadaan tradisi Mandi Safar juga menjadi bentuk pelestarian identitas budaya lokal serta memiliki potensi sebagai daya tarik wisata budaya yang memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mandi Safar tidak hanya dimaknai sebagai ritual budaya, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat. Simbol air dalam tradisi ini bermakna sebagai penyucian diri, sedangkan pelaksanaan bersama mencerminkan kebersamaan, gotong royong, dan pelestarian identitas budaya lokal. Tradisi ini menjadi bentuk perpaduan antara nilai Islam dan budaya Melayu yang terus dipertahankan masyarakat Pulau Rupat.