Perkembangan media digital menjadikan YouTube sebagai ruang komunikasi yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun keterlibatan emosional melalui penggunaan bahasa, salah satunya melalui tindak tutur ekspresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan fungsi-fungsi tindak tutur ekspresif yang digunakan oleh Nadia Omara dalam video storytelling Kisah Horor Wawak (KHW) Part 361: Piutang berdasarkan teori John R. Searle. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Data penelitian berupa tuturan verbal yang mengandung tindak tutur ekspresif, yang dikumpulkan melalui teknik simak dan catat serta dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 28 tuturan ekspresif yang terdiri atas lima fungsi, yaitu mengeluh sebanyak 8 data (28,57%), menyalahkan 7 data (25,00%), mengkritik 6 data (21,43%), mengucapkan terima kasih 5 data (17,86%), dan memuji 2 data (7,14%), sedangkan fungsi mengucapkan selamat dan meminta maaf tidak ditemukan. Dominasi fungsi mengeluh menunjukkan bahwa narasi horor Nadia Omara lebih banyak merepresentasikan tekanan emosional dan kondisi psikologis tokoh sehingga mampu membangun keterlibatan emosional audiens. Temuan ini memperlihatkan bahwa tindak tutur ekspresif tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian sikap dan perasaan penutur, tetapi juga menjadi strategi pragmatis yang efektif dalam memperkuat kualitas storytelling pada media digital.