Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses konstruksi sosial nilai-nilai budaya Melayu melalui program Bedambus serta implikasinya terhadap penguatan karakter siswa di SMAN 1 Pangkalpinang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus intrinsik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi sosial nilai-nilai budaya Melayu melalui program Bedambus berlangsung melalui tiga tahapan, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Eksternalisasi terlihat dari gagasan sekolah untuk menjadikan SMAN 1 Pangkalpinang sebagai sekolah berciri khas budaya Melayu Bangka yang diekspresikan melalui berbagai kegiatan di lingkungan sekolah. Objektivasi terjadi ketika gagasan tersebut diwujudkan menjadi aturan, pembiasaan, norma, dan budaya sekolah sehingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari siswa. Internalisasi berlangsung ketika siswa memahami dan menerima nilai-nilai tersebut serta menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Proses internalisasi menunjukkan adanya perbedaan penerimaan siswa terhadap nilai-nilai budaya Melayu, yaitu mengikuti kegiatan karena aturan dan formalitas sekolah, menerapkan nilai berdasarkan kesadaran pribadi, serta belum sepenuhnya menerima bentuk penerapan tertentu. Perbedaan penerimaan tersebut berimplikasi terhadap penguatan karakter siswa yang tercermin dalam nilai religius, etika dan sopan santun, gotong royong, saling menghargai dan toleransi, cinta budaya lokal, serta disiplin. Namun, penerapan nilai-nilai tersebut belum konsisten pada seluruh siswa, terutama dalam menaati tata tertib dan mengikuti kegiatan literasi Melayu.