Penelitian ini mengkaji puisi “Tumbilotohe Umulolo Wawu Masatia” karya Yunus Dama sebagai representasi tradisi dan perubahan sosial masyarakat Gorontalo dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Puisi tersebut menggambarkan tradisi Tumbilotohe, yaitu kebiasaan masyarakat Gorontalo menyalakan lampu pada malam-malam akhir bulan Ramadan sebagai bentuk penyambutan Lailatulqadar dan Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi simbol budaya, identitas sosial, serta bentuk ekspresi religius masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Data penelitian berupa larik-larik puisi yang memuat unsur tradisi, nilai keagamaan, perubahan sosial, dan dinamika budaya masyarakat Gorontalo. Analisis data dilakukan dengan menafsirkan isi puisi berdasarkan perspektif sosiologi sastra yang menekankan hubungan antara karya sastra dan realitas sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi ini merepresentasikan Tumbilotohe sebagai tradisi yang memiliki nilai religius, seperti simbol penerangan hati, penyucian diri, serta peningkatan aktivitas ibadah di bulan Ramadan. Selain itu, puisi ini juga menggambarkan perubahan sosial dalam masyarakat Gorontalo, yaitu pergeseran penggunaan lampu tradisional menuju lampu modern serta perubahan fungsi tradisi dari kegiatan religius menjadi lebih bersifat hiburan dan visual. Meskipun demikian, nilai kebersamaan dan identitas budaya tetap dipertahankan dalam tradisi tersebut. Dengan demikian, puisi “Tumbilotohe Umulolo Wawu Masatia” tidak hanya berperan sebagai karya sastra yang estetis, tetapi juga sebagai media dokumentasi sosial yang merefleksikan tradisi, nilai keagamaan, serta perubahan sosial dalam masyarakat Gorontalo.