Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya bahasa yang terdapat dalam puisi "Tak Sepadan" karya Chairil Anwar. Puisi ini merupakan salah satu karya Chairil Anwar yang sarat dengan ekspresi perasaan kecewa, cinta tak terbalas, dan kesadaran diri tentang ketidaksesuaian antara dirinya dengan perempuan yang dicintainya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi (content analysis). Sumber data primer adalah teks puisi "Tak Sepadan", sedangkan data sekunder berupa buku teori sastra dan jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi ini mengandung gaya bahasa perbandingan (simile dan metafora), gaya bahasa penegasan (hiperbola dan litotes), serta gaya bahasa sindiran (ironi). Hiperbola pada baris penutup "Aku terpanggang tinggal rangka" merupakan puncak ekspresif sekaligus klimaks puisi yang paling kuat, yang menggambarkan kehancuran total diri penyair akibat cinta yang tidak seimbang. Gaya bahasa yang digunakan Chairil Anwar secara keseluruhan berfungsi untuk memperkuat ekspresi emosional, membangun suasana melankolis yang progresif, sekaligus menyampaikan pesan mendalam tentang cinta yang tidak setara.