Keberadaan kawasan kota tua jakarta sebagai situs cagar budaya nasional memiliki nilai strategis dari aspek sejarah, budaya, hinggan sosial-ekonomi. Namun demikian, perkembangan kota dan perubahan fungsi ruang mengancam keberlanjutan pelestarian kawasan tersebut. Penelitian ini berfokus pada penentuan prioritas instrumen insentif dan disinsentif dalam mendukung upaya pelestarian yang berkelanjutan, khususnya melalui pengendalian terhadap pemenfaatan ruang. Kajian ini menggunakan pendekatan analisis overlay untuk untuk membandingkan penggunaan lahan eksisiting dengan rencana pola ruang, evaluasi kesesuaian melalui tabel ITBX, serta metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan aplikasi Expert Choice guna menentukan tingkat prioritas insentif dan disinsentif. Temuan studi menunjukkan bahwa sebagian besar penggunaan lahan telah sesuai dengan rencana pola ruang maupun peraturan zonasi pada tabel ITBX, meskipun terdapat beberapa kawasan yang mengalami alih fungsi menjadi permukiman. Bentuk insentif yang mendapatkan prioritas tertinggi mencakup keringanan pajak (31,6%), penyelenggaraan publikasi dan promosi (28,1%), pemberian kompensasi (21,5%), dan pemberian penghargaan (18,8%). Adapun disinsentif yang dianggap menjadi prioritas tertinggi adalah pembebanan kewajiban memberikan kompensasi (75,4%) dan pengenaan pajak yang tinggi (24,6%). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam penyusunan strategi pelestarian kawasan cagar budaya secara adaptif dan berkelanjutan.