Pemikiran hermeneutika Rudolf Bultmann menekankan metode demitologisasi sebagai upaya untuk menginterpretasikan teks-teks Kitab Suci secara eksistensial, yaitu dengan membebaskan teks dari mitos-mitos yang bersifat kultural dan kosmologis agar dapat dipahami relevansinya bagi manusia modern. Bultmann mengadaptasi gagasan eksistensialisme Martin Heidegger, khususnya konsep "being" dan "temporalitas", untuk menjembatani pemahaman antara konteks historis teks dan pengalaman eksistensial pembaca masa kini. Demitologisasi bukan menghilangkan mitos secara literal, melainkan menafsirkan makna eksistensial yang terkandung dalam simbol-simbol tersebut, sehingga iman dapat dipahami sebagai pengalaman yang autentik dan personal. Pendekatan ini menggeser fokus teologi dari aspek historis-kultural menuju refleksi eksistensial tentang keberadaan manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Dengan demikian, hermeneutika Bultmann berperan sebagai metode interpretasi yang menghidupkan kembali teks-teks suci dalam konteks kehidupan kontemporer.