Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki dinamika politik lokal yang menarik, terutama dalam konteks Pemilu 2024. Keterlibatan organisasi mahasiswa tidak lepas dari meningkatnya kesadaran politik generasi muda di Bangka Belitung, yang berusaha mengangkat isu-isu lokal seperti pertambangan timah ilegal, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan pembangunan daerah. Hal ini menjadi peluang strategis bagi organisasi mahasiswa untuk membentuk gerakan politik yang kritis dan berorientasi pada perubahan struktural melalui afiliasi politik PMII dan IMM di Bangka Belitung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana afiliasi politik yang terjadi serta tantangan dan peluang politik terhadap PMII dan IMM. Menggunakan metode penelitian kualitatif, berdasarkan lima indikator di dalam teori mobilisasi sumber daya oleh Oberschall (1973) yakni struktur organisasi, kepemimpinan, sumber daya, jaringan-partisipasi, serta peluang dan kapasitas individu. ditemukan bahwa kedua organisasi memiliki potensi mobilisasi yang kuat, terutama dari sisi jaringan dan kualitas kader. Namun, keterbatasan sumber daya material dan tidak adanya strategi kelembagaan yang terstruktur menyebabkan mobilisasi politik lebih bersifat personal. Kepemimpinan juga berperan besar dalam menentukan arah afiliasi, yang kadang menimbulkan perbedaan pandangan internal. Meskipun begitu, Pemilu 2024 menjadi peluang penting bagi kader untuk berkontribusi dalam politik, dengan catatan perlunya penguatan kelembagaan dan konsistensi nilai nilai gerakan agar tidak terjebak dalam politik praktis semata.